RSS
Facebook
Twitter

Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Maret 2013

Beberapa penyakit yang belum ada obatnya

1. Elephantiasis (Kaki Gajah)
Lymphatic filiarisis, atau dikenal dengan Elephantiasis (kaki gajah) ditandai dengan pembengkakan ekstrim pada tangan atau kaki. Penyakit ini diesbabkan oleh nyamuk yang mengirimkan larva seperti Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan B. timori melalui gigitannya. Larva-larva tersebut kemudian hidup di dalam tubuh manusia selama bertahun-tahun. Selain tangan dan kaki, dada dan alat kelamin juga bisa membengkak.
2. Pica
Kelainan ini membuat penderitanya makan sesuatu yang bukan makanan seperti tanah, kertas, lem, arang, dan lain-lain. Masih belum jelas apa penyebab kelainan ini, namun ada kemungkinan disebabkan oleh kekurangan mineral, terutama zat besi. Meskipun belum ada cara penyembuhannya, masih ada cara perawatan untuk mengurangi gejalanya.
3. Sindrom Alice in Wonderland
Anda tentu mengenal Alice in Wonderland, dimana dalam cerita itu Alice bisa terlihat lebih kecil atau lebih besar dari benda-benda di sekelilingnya. Ini juga bisa terjadi dalam dunia nyata. Penderitanya bisa melihat rumahnya sebesar rumah anjing atau burung sebesar dinosaurus. Kelainan ini diakibatkan oleh perubahan persepsi atau adanya malfungsi indra penglihatan penderitanya. Penyakit ini belum bisa disembuhkan, tapi ada obat untuk mengurangi gejalanya secara signifikan.
4. Sindrom Mayat Berjalan

Mayat berjalan disini bukan dalam arti sebenarnya. Penderitanya hanya menganggap diri mereka demikian. Sindrom ini merupakan gabungan dari depresi dan kecenderungan bunuh diri. Mereka menganggap mereka telah kehilangan segalanya, dari jiwa hingga beberapa bagian tubuh. Lebih parah lagi, mereka menganggap diri mereka mayat berjalan. Penderita penyakit ini mengaku bisa mencium bau daging mereka sendiri atau merasakan ada cacing dalam tubuh mereka. Obat anti depresi tidak bisa membantu banyak dalam penyembuhan penyakit ini.
5. Penyakit Vampire
Penderita penyakit ini berusaha menghindari kontak langsung dengan matahari karena bisa berakibat fatal bagi mereka. Berbeda dengan namanya, penderita penyakit ini tidak minum darah dan bukan vampire.




Senin, 11 Maret 2013

Tips mengambil foto dengan baik

- Fokus dengan benar. Dalam pencahayaan baik, Anda hampir selalu dapat mengandalkan autofocus. Untuk hasil yang maksimal, jangan percayakan pada kamera untuk memilih titik fokus. Gunakan titik fokus tunggal, fokuskan kamera pada objek yang Anda inginkan dengan menekan shutter setengah jalan, kemudian ubah komposisi. Jangan lupa, untuk mendapatkan ruang tajam terlebar gunakan focal length wide dan aperture terkecil.

- Gunakan tripod. Kamera tidak boleh shake jika Anda ingin mendapatkan ketajaman maksimal. Untuk mencegah shake, tripod adalah solusi teraman. Dengan tripod Anda dapat menggunakan ISO terendah. Jika langkah ini dirasa masih kurang, matikan sharpening di dalam kamera dan sebagai gantinya gunakan Unsharp Mask di Photoshop yang memberikan hasil lebih baik.

- Matikan image stabilizer. Jika Anda memutuskan menggunakan tripod, image stabilizer kamera harus dimatikan. Image stabilizer dirancang untuk meredam goncangan tangan pengguna. Jika kamera stabil, sistem ini justru dapat “bertingkah” membuat gambar blur. Kamera dengan system image stabilizer digital bahkan lebih parah lagi. Kamera tipe ini tidak akan memotret dalam resolusi maksimal dalam kondisi apapun jika image stabilizer aktif.

- Mode “P”, jangan mode auto. Uniknya hasil yang lebih baik, ada baiknya Anda menggunakan mode P kamera, dan bukan mode otomatis. Dalam mode P, biasanya Anda masih diperkenankan untuk mengubah parameter penting seperti ISO, white balance, atau EV adjustment. Mode ini tersedia di kebanyakan tipe.

- Matikan flash. Menonaktifkan flash seringkali banyak membantu. Kamera akan secara menangkap warna yang lebih natural dibandingkan dengan cahaya putih flash.

- Koreksi dengan Photoshop. Dengan tool “levels” di Photoshop, Anda hanya memerlukan beberapa klik untuk memperindah warna. Dengan tool “Curves” Anda bahkan dapat melakukan adjustment yang lebih detil.

- Overexposure mengurangi noise. Noise paling kuat pada area gelap sehingga jika bayangan mendominasi foto Anda, kemungkinan noise juga mendominasinya. Jika Anda memotret dengan sedikit overexposure, maka area shadow akan menjadi lebih terang dan menunjukkan lebih sedikit noise.

Blog adalah...

Apa itu blog? Well, untuk singkatnya, blog adalah sebuah medium untuk penyampaian informasi dengan menggunakan jaringan internet, dengan cara yang lebih egaliter dan dengan semangat globalisme, karena informasi gak cuman milik media mainstream aja, setiap individu juga bisa menyampaikan suaranya, yang sering kali lebih cepat, bebas dan variatif karena tidak berada dibawah suatu jaringan korporat. Bisa dibilang blog adalah New Media for Information and Culture. Kehadiran blog sebagai sumber informasi baru sudah mulai menunjukan signifikansinya karena para pembacanya membutuhkan informasi yang mungkin tidak terdapat di media mainstream dan untuk mendengar suara-suara yang selama ini belum terdengar tanpa kehadiran jaringan internet. Atau dalam kata lain kalo kamu kepingin mencari tau tentang sesuatu yang agak sulit di cari di media mainstream, kemungkinannya akan sangat besar kamu akan mendapatkannya lewat blog seseorang, kalo gak dapet, yah bikin sendiri aja.

SMA/SMK Terbaik di Indonesia

SMAK 1 BPK Penabur, Jakarta
Langganan Olimpiade Fisika/Matematika. Peringkat NEM/hasil UAN pun langganan terbaik di Indonesia. Dapat dikatakan, semua orang mengenal sekolah ini. Tidak diragukan lagi, sekolah ini termasuk salah satu yang terbaik di Indonesia. Semboyannya adalah Iman, Ilmu & Pelayanan.

SMAN 8 Jakarta
Tak diragukan lagi, SMAN 8 Jakarta merupakan sekolah negeri terbaik di Indonesia, dengan seabreg2 prestasi nasional/internasional. Peringkat NEMnya juga termasuk dalam jajaran peringkat atas nasional. Sangat dominan di UI/ITB.

SMAN 3 Bandung
Selain seabreg2 prestasi nasional/internasional, SMA ini juga legendaris karena sangat dominan di ITB. ITB seperti sekedar "pindah kelas" saja bagi mereka.

MAN Insan Cendekia, Serpong
Termasuk sekolah baru, namun prestasinya luar biasa. Berasrama penuh seperti no.3, tapi tanpa mengedepankan pola hidup semi militer. Menitikberatkan penguasaan IPTEK & IMTAK kepada para siswanya.

SMAN 1 Teladan, Yogyakarta
Sekolah tua yang menjadi teladan di Yogyakarta, Jawa Tengah dan sekitarnya. Prestasinya sudah terkenal sejak dulu.

SMAN 5 Surabaya
Unggulan di Jawa Timur. Sebutan SMA Komplek mengacu kepada keberadaan sekolah ini sebagai pusatnya. Prestasinya juga sudah terkenal sejak dulu.


SMAN 3 Semarang
Unggulan di Jawa Tengah. Konon merupakan SMA terbesar di Indonesia. Prestasinya juga sudah masyhur sejak dahulu kala.
Silakan ditambahkan, khususnya untuk yang luar Jawa, karena pengetahuan ane juga terbatas

Kamis, 07 Maret 2013

CANON VS NIKON

Perbedaan paling mencolok dari kedua perusahaan ini adalah strategi korporat mereka. Nikon sejak awal hanya memfokuskan diri pada Teknologi Presisi dan Teknologi Alat Elektronik yang berhubungan dengan Lensa (Precision Technologies and Opto-electronic Technologies). Oleh karenanya produk-produk keluaran Nikon selalu berbasiskan lensa (Kamera, Teropong, Mikroskop, Alat pengukur jarak, Lensa kaca mata, dan lain-lain). sumber

Sedangkan Canon sejak tahun 1960an sudah merencakan untuk melakukan diversivikasi produk mereka dengan mulai memproduksi kalkulator 10-key elektronik pertama di Dunia pada tahun 1964. Sejak itu, selain memiliki bisnis berbasis kamera dan lensa, Canon mulai memproduksi mesin photocopy (tahun 1970 menjadi mesin copier kertas pertama di Jepang), laser printer (tahun 1979), ink-jet printer (1985) dan large-format ink-jet printer (2006). sumber

Dari kedua strategi korporat tersebut, Nikon dan Canon bersaing secara langsung di bidang kamera (slr dan point-n-shoot), dan teknologi presisi (alat pembuat semi-konduktor). Dalam bidang ini, kedua perusahaan ini masing-masing memiliki teknologi yang sama baiknya. Kedua perusahaan ini juga memiliki pengikut yang sama fanatiknya. Sehingga tidak bisa dikatakan yang satu lebih baik dibandingkan yang lain.
Kalau dilihat dari sisi finansialnya, Canon mempunyai total aset sebesar 3.983.820 juta yen (2010), sedangkan Nikon sebesar 829.909 juta yen (2011/Q3). Canon sekitar 4,8 kali lebih besar daripada Nikon. Hal ini tentu dikarenakan bisnis Canon jauh lebih beragam dibandingkan Nikon. sumber 1,sumber 2

Lensa-lensanya mereka juga pasti sama bagusnya, sama tajamnya. Dari hasil riset teknologi lensa yang mereka lakukan, mereka dapat membuat lensa yang dapat memfokuskan sinar yang dipakai untuk ‘mencetak’ chip. Nikon dan Canon sama-sama memiliki divisi yang menjual alat pembuat chip. Alat tersebut bernama stepper, dan salah satu langkah untuk membuat chip adalah mencetak pola garis-garis yang kemudian menjadi jalannya sinyal listrik dalam rangkaian chip tersebut. Lebar dari garis ini hanya 38 nm (1 000 000 nano-meter = 1 mili-meter). Kalau lensa mereka dapat menfokuskan sinar yang dipakai dalam proses pembuatan chip, mereka tentu mudah saja membuat lensa yang kita pakai untuk motret model atau landscape.

Jadi, kalau mereka dapat membuat lensa yang dapat memfokuskan garis hingga 38 nm, kenapa mereka masih membuat lensa yang kelihatannya hasilnya ‘biasa-biasa’ saja? Kenapa mereka tidak membuat semua lensa mereka tajam dan kelas nomer 1? Jawabnya sederhana: Strategi Marketing dan Quality Control.
Mereka mungkin memiliki teknologinya. Akan tetapi untuk memproduksi lensa premium dibutuhkan quality control yang ketat. Hal ini membuat biaya produksi lensa-lensa yang bagus menjadi mahal. Tentunya mahalnya biaya produksi kemudian akan dibebankan kepada konsumen dalam bentuk harga jual lensa yang mahal pula. Kalau bahasa inggrisnya, ono rego ono rupo (baca: ada harga ada barang).
Penentuan harga jual inilah yang mendikte kualitas dari sebuah lensa. Ujung-ujungnya strategi marketing dari setiap merk kamera.
Jadi, lensa mereka sama bagusnya.

Keduanya saling susul-menyusul dari segi teknologi. Rasanya, jarang terjadi salah satu merk terlalu ketinggalan teknologi dari merk satunya lagi. Kalau toh tertinggal, merk yang tertinggal teknologinya tersebut selalu dapat menyusul ketinggalannya tersebut.
Keduanya saling mencontek dan meniru teknologi yang dilakukan pesaingnya. Sebagai contoh, teknologi auto-fokus pertama dikembangkan oleh Leica yang mempresentasikan Correfot sebagai kamera SLR pertama yang mempunyai teknologi auto-focus. Sedangkan Konica mencatatkan sejarah sebagai perusahaan yang pertama kali memproduksi kamera poket yang mempunya kemampuan auto-focus. Teknologi auto-focus ini kemudian dicontek oleh Nikon dan Canon dengan strategi yang berbeda. Nikon mengadopsi teknologi yang dilakukan oleh Minolta (Minolta Maxxum 7000 sebagai kamera SLR pertama yang terintegrasi secara utuh dalam body kamera, yaitu Auto-focus, motor penggerak lensa dan motor penggerak film), sedangkan Canon mengadopsi teknologi EOS mereka dengan meletakkan motor penggerak lensa di lensa mereka. Strategi ini lalu kemudian dicontek oleh Nikon dengan mengeluarkan sistem AF-S.
sumber

Ads:



Kejar-kejaran dan saling mencontek di antara produsen kamera seperti ini tidak saja terjadi di teknologi Auto-Focus yang saya ceritakan di atas, akan tetapi pada hampir semua teknologi yang ada di kamera sekarang ini. Multi-segmen metering, Image Stabilizer, Anti-Dispersion Lens, Through The Lens Metering, TTL Flash metering, dan banyak lagi teknologi yang diciptakan oleh salah satu produsen kamera, lalu dicontek teknologinya oleh produsen yang lain.
—————————————
Jadi, mana yang lebih baik diantara keduanya? Menurut saya, tidak ada. Masing-masing memiliki kelebihan (dan kekurangan) di setiap market level yang ada. Terkadang Nikon memiliki keuntungan strategis dalam penerapan teknologi mereka dibanding Canon. Akan tetapi, biasanya beberapa saat kemudian Canon mengeluarkan teknologi yang sama baiknya, atau mungkin lebih baik daripada Nikon. Kejar-mengejar teknologi ini sudah terjadi bertahun-tahun, yang membuat kedua perusahaan ini mempunyai pengikut yang hampir sama besarnya.
Lalu, bagaimana kita memilih antara Nikon atau Canon? Jawabnya mudah, Anda lebih nyaman dengan merk apa. Apabila memungkinkan, cobalah kedua merk ini melalui teman-teman Anda atau tempat sewa kamera yang mungkin ada di kota Anda. Amati hasil fotonya menggunakan jenis lensa yang sama (kualitas lensa lebih menentukan kualitas gambar Anda ketimbang body kamera).
Anda mungkin juga perlu membaca tulisan saya mengenai Pedoman Membeli Kamera D-SLR